Ada tujuh milyar manusia di bumi ini. Masa itu fikirku kenapa Tuhan memilih hatiku untuk tetap ditempatkan disebelahmu yang tidak bisa kulihat sewaktu-waktu. Ah, tapi tenang saja. Toh, kita tidak hidup di zaman medieval di mana kerinduan mesti diretas oleh surat yang harus menyebrangi lautan. Kerinduan kita hanya perlu ditanggulangi oleh jempol yang mengetik di layar ponsel. Kita saling menyemangati di kala pagi datang dan saling mendoakan ketika malam tiba, Itu sudah lebih dari cukup.
Mungkin kau dan aku bukan ditakdirkan untuk jatuh cinta yang hanya untuk berjalan di dalamnya; menikmati waktu melambat hingga Tuhan mempertemukan kau dan aku. Maka kita berhenti mengutuk soal kenapa kita berdua hidup di tempat berbeda yang begitu jauh, dan mulai mensyukuri betapa benar perjumpaan kita indah adanya.
Aku berusaha menjaga janji yang kita berdua pernah ukir. Aku harap kau pun begitu.
Aku berusaha menjaga janji yang kita berdua pernah ukir. Aku harap kau pun begitu.
Tak usah khawatir...
Jarak terjauh kita hanyalah tentang "waktu".
Tabungan terindah kita adalah "rindu".
Jarak hanyalah satu titik kecil tak berarti.
Rindu adalah satu koma yang takkan menghentikan kalimat tentang kau dan aku.
-GARIS WAKTU, FIERSA BESARI-
7 tahun bukan masa yang singkat bagi kami untuk saling mengenal, hari-minggu-bulan-tahun menjadi deretan angka-angka yang menyaksikan betapa waktu melambat di kala rindu dan begitu cepat waktu berlalu saat bertemu. Seperti kebanyakan pasangan umumnya, dua tahun pertama kami lewati dengan bunga-bunga cinta bermekaran, dunia serasa milik berdua, kemana-mana selalu bersama. Tapi mana sangka tahun-tahun berikutnya alasan jarak lah yang kemudian mendewasakan, lebih tepatnya hanya berusaha untuk tetap terbiasa bahagia walau cukup berada di bawah naungan langit yang sama.
Rindu bukan diciptakan oleh jarak, tapi oleh perasaan.
Rindu ditemukan bukan karena dia jauh, tapi karena ia ada dan telah menyatu di dalam kamu.
Rindu bukan diciptakan oleh jarak, tapi oleh perasaan.
Rindu ditemukan bukan karena dia jauh, tapi karena ia ada dan telah menyatu di dalam kamu.
Meski tanpa memutus, intensitas tatap muka tentu saja mulai tergerus. Semenjak jarak membentang ketemu makin jarang-jarang, awal hubungan-jarak-jauh dua bulan sekali masih usaha biar ketemu, sampai terakhir pasrah aja dalam setahun cuma sempat ketemu dua kali (kalau ga salah ingat), itu juga lapak kencan nya numpang cuma kalau lagi ada kondangan temen 😪. Ga perlu salut dulu deh, karena sebenarnya gelora cinta kami ga sekalem itu hahahahahaha
Jangan heran dan ngajuin pertanyaan "emang itu hati ga kernyat-kernyit pas ga ketemu-ketemu?", duh, sama kok, manusia biasa. Tapi mungkin banyak yang ga tau kalau selama LDR itu justru pintu "pendekatan" lainnya justru semakin terbuka. Kalau dulu si Abang punya kesempatan ketemu Abah cuma sekali-kali di pengajian tahunan, justru waktu "jaga jarak" ini dia jadi sering main kerumah, malah akhir-akhirnya hampir tiap bulan ngapelin Abah. Iya, ketemunya cuma sama Abah. Sudah tradisi, buat Abah ga ada agenda ditinggal ngobrol dua-duaan di dalam rumah, malah seringnya kalau sekeluarga lagi solat berjamaah aja trus ada tamu laki-laki sms/nelp Abah berkabar sudah didepan rumah, jamaah wirid pun langsung refleks dibubarkan, anak-bini dipingit dikamar masing-masing. Dalam kasus kami, lucunya, walaupun kadang-kadang ga sengaja papasan ketemu pas di sekitaran dalam rumah, jangankan saling sapa, saling ngelirik aja engga. Well, jadi jelas sebenarnya bukan ga ada kesempatan sama sekali buat kita berdua nyempetin ketemu, cuma kayaknya ga ada alasan yang berarti buat merusak apa yang mulai berjalan baik. Itu aja.
Jangan heran dan ngajuin pertanyaan "emang itu hati ga kernyat-kernyit pas ga ketemu-ketemu?", duh, sama kok, manusia biasa. Tapi mungkin banyak yang ga tau kalau selama LDR itu justru pintu "pendekatan" lainnya justru semakin terbuka. Kalau dulu si Abang punya kesempatan ketemu Abah cuma sekali-kali di pengajian tahunan, justru waktu "jaga jarak" ini dia jadi sering main kerumah, malah akhir-akhirnya hampir tiap bulan ngapelin Abah. Iya, ketemunya cuma sama Abah. Sudah tradisi, buat Abah ga ada agenda ditinggal ngobrol dua-duaan di dalam rumah, malah seringnya kalau sekeluarga lagi solat berjamaah aja trus ada tamu laki-laki sms/nelp Abah berkabar sudah didepan rumah, jamaah wirid pun langsung refleks dibubarkan, anak-bini dipingit dikamar masing-masing. Dalam kasus kami, lucunya, walaupun kadang-kadang ga sengaja papasan ketemu pas di sekitaran dalam rumah, jangankan saling sapa, saling ngelirik aja engga. Well, jadi jelas sebenarnya bukan ga ada kesempatan sama sekali buat kita berdua nyempetin ketemu, cuma kayaknya ga ada alasan yang berarti buat merusak apa yang mulai berjalan baik. Itu aja.
The rule is: There's no personal competition, when you're manifesting your own lane.
You will never need to overextend yourself for what's already yours.
You will never need to overextend yourself for what's already yours.
💙💙💙
Setia itu seperti ini, sejauh apa langkah ini berjarak ribuan kaki, sekuat apa hati ini mencari pengganti, pasti menemukan jalan kembali. Karena pada akhirnya yang terpenting adalah muhasabah diri, bahwa yang telah bersedia menemani perjuangan dari nol lah yang hadirnya patut disyukuri.
Setia itu seperti ini, sejauh apa langkah ini berjarak ribuan kaki, sekuat apa hati ini mencari pengganti, pasti menemukan jalan kembali. Karena pada akhirnya yang terpenting adalah muhasabah diri, bahwa yang telah bersedia menemani perjuangan dari nol lah yang hadirnya patut disyukuri.
Meski sempat tak tahu langkah mana yang harus dijalani, tetaplah memilih meneruskan langkah. Jika ditanya kenapa saling memilih? Itu karena Allah telah menghadirkan seseorang yang tengah menunggu dan berjuang memantaskan diri. Walau jodoh tetap rahasia Allah, yang perlu diyakini adalah sehebat apapun setia, selama apapun menunggu, sekeras apapun bersabar, berharaplah kelak semua ditetapkan dengan ganjaran terbaik.
Tetaplah dihatiku dengan kesan yang baik, menghangatkan jarak tentang sebuah cinta, jadilah pelindung ketidakmampuanku dalam menjaga prasangka. Tolong bantu aku hingga waktu terlelahmu datang. Aku menunggu, kamu siap menuju.
-MELODY DALAM PUISI, PANJI RAMDANA-
Dulu, ga cuma sekali-dua yang pernah nyindir tentang hubungan ini. Entah semacem cuma buat nyinyir bahan becandaan yang umum sampe yang nyeri di hati bikin ngulum senyum; "Kalian serius ga sih? kapan nih halalnya", "Ngapain sih pacaran lama-lama banget, takut ntar ujungnya cuma ngejagain jodoh orang", "Duh, hubungannya bertaun-taun, kalau ngambil cicilan udah lunas tuh kreditan helikopter", "Mentok amat, emang ga punya pilihan?", hahahahaha SABAR. Iya, sabar lagi. karena kalau sabar aja bisa jadi pengendali protesnya hati, kenapa sabar ga bisa menyelamatkan dari protesnya komentar orang?
Pertama,
Menikah itu komitmen jangka panjang. Bukan pilihan sederhana kalau ngebet menikah cuma gara-gara sudah lulus kuliah, apalagi karena temen-temen pada nikah. Menikah itu tentang kesamaan visi dan misi, keyakinan bahwa jika berdua segalanya akan lebih baik dalam konteks seperti apa, dan sudah matang kah kemampuan diri sendiri menjadi dan untuk membawa ketenangan bagi pasangan kelak. Bukan cuma karena dianggap sudah kenal bertahun-tahun lantas semuanya sudah baku membaur jadi satu kepala, dan bukan juga berarti ditahan berlama-lama karena hati belum mantap. Menunggu itu memang bukan pekerjaan menyenangkan, tapi terkadang yang disebut keberanian adalah kesabaran dengan penuh harap untuk mampu bertahan lebih lama sambil terus memperbaiki diri. Semua akan melangkah ke pelaminan pada akhirnya, tapi ga semua kisah perjalanannya sama, jadi hanya karena caranya berbeda bukan berarti hubungan ini tersesat. Bukankah jodoh sudah tertera meski dipercepat atau terlambat? Mungkin menunggu adalah hal berat, tapi ini bukan tentang menunggu tanpa kepastian, ini tentang menikmati masa berjalan hingga masa tunggu itu usai disaat tepat. Simply, Ini perkara perjanjian Tuhan, dengan waktu yang sudah ditentukan.
Kedua,
Ketiga,
"Udahlah.. tinggalin aja, bangun hubungan baru sama orang lain yang masih bisa disusun dari awal lagi daripada nerusin yang sudah rumit begini. Ya bukan apa-apa sih kasian aja kalian stuck berdua." Mendesir rasanya ketika mendengar orang lain memberiku atau memberinya saran "menyudahi dengan singkat" hubungan yang kami bina. Setiap hubungan punya masalah, tapi bukan serta merta kemudian dengan mudahnya jalan pintas yang ditawarkan adalah memberi umpan salah satu diantaranya dengan pasangan baru. Gini lho, darimana bisa disebut solusi, ketika sebuah masalah yang menggantung ditimpa dengan memupuk akar masalah baru? Bukan sebal karena diingatkan masing-masing dari kita masih punya kesempatan memilih, dimana logikanya ketika seseorang bisa-bisanya berkata diluar batas entah apapun sebutannya; main-main, senang-senang, refreshing, coba-coba, iseng-iseng, yang nasehatnya berpengaruh mengarah ke pengkhianatan sementara maupun permanen, mau itu disebut selingkuh fokus, hati, atau mungkin fisik. Sesuatu yang seharusnya bisa dipertanggung-jawabkan dengan dewasa, diceletukkan semudah itu tanpa rasa.
Jujur aja, sesering-seringnya saya jadi sampah curhatan, rasanya walau sebermasalah apapun urusan orang, saya ga pernah lancang ngasih mereka saran buat ninggalin pasangannya apalagi cari pelampiasan atau selingan. Jadi ya bisa diambil kesimpulan, emang cuma yang punya basic mental kutu loncat yang bakal ngasih motivasi ke orang lain biar hubungannya tambah cacat.
Ah.. kadang memang ada orang-orang dengan kelakuan ga penting yang ga perlu ditanggapi dengan reaksi.
Ya ya ya, memang kadang kehadiran orang-orang baru bisa saja "terlihat" lebih menarik, lebih seru, lebih lucu, lebih membuat bersemangat sementara waktu. Yang perlu diingat, rumput tetangga mungkin "terlihat" lebih hijau, tapi kalau hujan ya sama aja beceknya. Trus kalau itu rumput tetangga udah bisa jadi milik, apa lantas nantinya ente bisa ngatur hujan? atau ente mau terus-terusan ngiler liat rumput tetangga lainnya kalau halaman baru ente becek lagi? Jelas bukan solusi.
Jatuh cinta itu mudah, tapi untuk mempertahankannya hanya bersama satu orang yang itu-itu saja, untuk mengerti bahwa kecemburuan adalah salah satu ciri kestabilan hubungan, atau untuk menyadari bahwa betapa kekanak-kanakannya menyudahi sebuah hubungan hanya karena beralasan bosan, dibutuhkan sepasang pribadi dewasa yg berani berkomitmen. HAHA! rasanya ingin ikut terbahak - kalau bisa, tepat didepan biji matanya. Saya sih cukup tau aja. Seandainya mereka mengerti a friend should help you feel secure, not make you feel like you are constantly walking on egg shells, isn't? Apalagi untuk sebuah kontribusi nasihat besar yang didalam hubungan mereka dengan pasangan masing-masing sendiri aja (saat itu) belum jelas arahnya kemana. Oh ya jadi ingat, apa sebutannya? "Caliscaludam; Coba-lebih-sering-ngaca-luar-dalam" deh ya 😉👌 I might keep in silent when you guys treat me as a fucking idiot, but didn't ever get me wrong, I was not that fool anyway. I could have throw my crown on and remind you who you're dealing with, tapi rasanya ga perlu. Ingat taktik tinju? yang juara adalah yang mampu bertahan, bukan yang buang energi dengan liar mempertaruhkan segalanya hantam kanan-kiri sembarangan. Telak. Itu juga berlaku dalam rumus kehidupan.
Andai kalian tahu bagaimana saya berusaha mempertahankan, saya ragu kalian sanggup. Karena untuk semua itu, kalian perlu menjalani yang saya hadapi.
Tapi yang kalian harus tahu, hasrat ini bukan seperti lilin ulang tahun, yang mudah dipadamkan oleh hembusan hanya agar penonton bertepuk tangan.
Pertama,
Menikah itu komitmen jangka panjang. Bukan pilihan sederhana kalau ngebet menikah cuma gara-gara sudah lulus kuliah, apalagi karena temen-temen pada nikah. Menikah itu tentang kesamaan visi dan misi, keyakinan bahwa jika berdua segalanya akan lebih baik dalam konteks seperti apa, dan sudah matang kah kemampuan diri sendiri menjadi dan untuk membawa ketenangan bagi pasangan kelak. Bukan cuma karena dianggap sudah kenal bertahun-tahun lantas semuanya sudah baku membaur jadi satu kepala, dan bukan juga berarti ditahan berlama-lama karena hati belum mantap. Menunggu itu memang bukan pekerjaan menyenangkan, tapi terkadang yang disebut keberanian adalah kesabaran dengan penuh harap untuk mampu bertahan lebih lama sambil terus memperbaiki diri. Semua akan melangkah ke pelaminan pada akhirnya, tapi ga semua kisah perjalanannya sama, jadi hanya karena caranya berbeda bukan berarti hubungan ini tersesat. Bukankah jodoh sudah tertera meski dipercepat atau terlambat? Mungkin menunggu adalah hal berat, tapi ini bukan tentang menunggu tanpa kepastian, ini tentang menikmati masa berjalan hingga masa tunggu itu usai disaat tepat. Simply, Ini perkara perjanjian Tuhan, dengan waktu yang sudah ditentukan.
Kedua,
Bertahun-tahun itu terlewati karena fokus kami beda, masing-masing sepakat masih punya life-goals yang pengen dicapai sebelum memutuskan menikah, entah dengan siapapun itu pada akhirnya. Ada begitu banyak prioritas yang menjadi tanggung jawab bagi kami sebelum konsentrasi menjejaki pernikahan. Jadi ga melulu konsen "ngurus pacaran", atau kemana-mana mojok, lagipula selama komunikasi baik-baik aja, kenapa harus dicari-cari ga cocoknya? Toh kami bukan ga melakukan apa-apa, tapi restu orangtua tetap diatas segalanya. Apa sepantasnya ketika seorang anak perempuan yang masih bisa melakukan banyak hal selama berada disamping orangtua ketika mereka membutuhkan atas segala jerit payah yang mereka lakukan selama membesarkannya lantas semena-mena dia berhak tiba-tiba memohon ridho untuk dilepaskan kepada lelaki lain yang baru dikenal kemaren sore untuk hidup bersama selamanya? Apa kurang konyol ketika datang seorang anak lelaki pada ibunya setelah bertahun-tahun merantau demi memboyong seorang gadis pujaan tanpa sempat punya waktu menikmati bakti setelah kembali dari perjalanan menuntut ilmu dengan masa tunggu panjang yang diberikan ibunya dengan berjuang?
Apa yang salah dengan sedikit waktu untuk memantaskan diri, bagi seorang perempuan untuk menerima keikhlasan Ayah-Ibu sampai rela melepaskannya? atau bagi seorang anak lelaki yang tidak ingin datang dalam keadaan sembarang karena faham perempuan yang diperjuangkannya ini telah dibahagiakan mati-matian oleh orangtuanya.
Apa yang salah dengan kesediaan menunggu, bagi seorang perempuan ketika lelaki yang dinginkannya menjadi imam bagi dirinya untuk mempertanggung-jawabkan keluarganya terlebih dahulu? atau bagi seorang anak lelaki yang kelak ingin anak perempuannya juga diraih seorang pemuda dalam keadaan dan cara yang baik.
Dan alasan-alasan itu yang membuat kisah ini masih layak diteruskan.
Ketiga,
"Udahlah.. tinggalin aja, bangun hubungan baru sama orang lain yang masih bisa disusun dari awal lagi daripada nerusin yang sudah rumit begini. Ya bukan apa-apa sih kasian aja kalian stuck berdua." Mendesir rasanya ketika mendengar orang lain memberiku atau memberinya saran "menyudahi dengan singkat" hubungan yang kami bina. Setiap hubungan punya masalah, tapi bukan serta merta kemudian dengan mudahnya jalan pintas yang ditawarkan adalah memberi umpan salah satu diantaranya dengan pasangan baru. Gini lho, darimana bisa disebut solusi, ketika sebuah masalah yang menggantung ditimpa dengan memupuk akar masalah baru? Bukan sebal karena diingatkan masing-masing dari kita masih punya kesempatan memilih, dimana logikanya ketika seseorang bisa-bisanya berkata diluar batas entah apapun sebutannya; main-main, senang-senang, refreshing, coba-coba, iseng-iseng, yang nasehatnya berpengaruh mengarah ke pengkhianatan sementara maupun permanen, mau itu disebut selingkuh fokus, hati, atau mungkin fisik. Sesuatu yang seharusnya bisa dipertanggung-jawabkan dengan dewasa, diceletukkan semudah itu tanpa rasa.
Jujur aja, sesering-seringnya saya jadi sampah curhatan, rasanya walau sebermasalah apapun urusan orang, saya ga pernah lancang ngasih mereka saran buat ninggalin pasangannya apalagi cari pelampiasan atau selingan. Jadi ya bisa diambil kesimpulan, emang cuma yang punya basic mental kutu loncat yang bakal ngasih motivasi ke orang lain biar hubungannya tambah cacat.
Ah.. kadang memang ada orang-orang dengan kelakuan ga penting yang ga perlu ditanggapi dengan reaksi.
Mungkin justru suatu hari kisah ini jadi inspirasi, biar kemudian komentar mereka yang jadi saksi.
Ya ya ya, memang kadang kehadiran orang-orang baru bisa saja "terlihat" lebih menarik, lebih seru, lebih lucu, lebih membuat bersemangat sementara waktu. Yang perlu diingat, rumput tetangga mungkin "terlihat" lebih hijau, tapi kalau hujan ya sama aja beceknya. Trus kalau itu rumput tetangga udah bisa jadi milik, apa lantas nantinya ente bisa ngatur hujan? atau ente mau terus-terusan ngiler liat rumput tetangga lainnya kalau halaman baru ente becek lagi? Jelas bukan solusi.
Jatuh cinta itu mudah, tapi untuk mempertahankannya hanya bersama satu orang yang itu-itu saja, untuk mengerti bahwa kecemburuan adalah salah satu ciri kestabilan hubungan, atau untuk menyadari bahwa betapa kekanak-kanakannya menyudahi sebuah hubungan hanya karena beralasan bosan, dibutuhkan sepasang pribadi dewasa yg berani berkomitmen. HAHA! rasanya ingin ikut terbahak - kalau bisa, tepat didepan biji matanya. Saya sih cukup tau aja. Seandainya mereka mengerti a friend should help you feel secure, not make you feel like you are constantly walking on egg shells, isn't? Apalagi untuk sebuah kontribusi nasihat besar yang didalam hubungan mereka dengan pasangan masing-masing sendiri aja (saat itu) belum jelas arahnya kemana. Oh ya jadi ingat, apa sebutannya? "Caliscaludam; Coba-lebih-sering-ngaca-luar-dalam" deh ya 😉👌 I might keep in silent when you guys treat me as a fucking idiot, but didn't ever get me wrong, I was not that fool anyway. I could have throw my crown on and remind you who you're dealing with, tapi rasanya ga perlu. Ingat taktik tinju? yang juara adalah yang mampu bertahan, bukan yang buang energi dengan liar mempertaruhkan segalanya hantam kanan-kiri sembarangan. Telak. Itu juga berlaku dalam rumus kehidupan.
Andai kalian tahu bagaimana saya berusaha mempertahankan, saya ragu kalian sanggup. Karena untuk semua itu, kalian perlu menjalani yang saya hadapi.
Tapi yang kalian harus tahu, hasrat ini bukan seperti lilin ulang tahun, yang mudah dipadamkan oleh hembusan hanya agar penonton bertepuk tangan.
You gained so much by walking away from some people's thoughts that brought you to negatively.
Then life became beautiful, bright, and calm again. Got the lesson?
💛💛💛
Aku tak pergi, aku tak kemana-mana.
Aku tak pergi, aku tak kemana-mana.
Bila aku pernah tak kau lihat, mungkin aku hanya sedang tertimbun oleh kesenanganmu yang lainnya
Mungkin aku salah, mungkin kau juga.
Mungkin aku salah, mungkin kau juga.
Tapi tetaplah disini dan belajar memperbaiki bersama-sama lagi.
Bukankah kita jatuh cinta tanpa alasan?
Agar bila kelak tak lagi kita temukan alasan-alasan untuk saling mencintai,
kita juga tak punya alasan-alasan untuk saling meninggalkan.
kita juga tak punya alasan-alasan untuk saling meninggalkan.
Sekeras-kerasnya keras kepala kita,
Takkan pernah ada rasa ingin membenturkan semua ini, ke hati yang lain.
Tapi jika sempat terpikir untuk pergi, maka cobalah sejauh-jauhnya.
Sampai kita sadari bumi ini bulat, semakin pergi berlari semakin cepat pula mendekat.
Walau yang menyala, akhirnya padam juga. Yang terbit, juga akan terbenam.
Namun setidaknya hingga detik ini, kita ialah masih.
Karena terserah apapun pertanyaannya, tetap bagiku kau adalah sebuah jawab.
-UNTUK MATAMU, KHARISMA P LANANG-
Jangan dikira hubungan-jarak-jauh yang pernah kami alami bebas dari masalah-masalah alot yang memuakkan. Berawal dari pertemuan yang semakin terbatas, menimbulkan spekulasi kecurigaan yang perlahan meretas, hingga menciptakan tumpukan kecewa yang menebal jadi dinding pembatas. Percayalah, hubungan-jarak-jauh itu membosankan, bahkan kadang jenuhnya bisa sengaja dibuat-buat, mencari-cari alasan hingga tanpa disadari terjebak rasa bersalah karena membuat banyak hati justru malah ikut terlibat. Ya, hubungan-jarak-jauh menguji kesabaran ketika dua orang tidak pernah bisa menyelesaikan akumulasi masalah terpendam yang tak kunjung terbicarakan.
Ingat betul bagaimana awal hubungan kami mulai terlihat menjanjikan, ketika tepatnya sejak awal 2016 lalu terlihat tanda-tanda respon kedua orangtua hingga sedikit demi sedikit -meski terkadang dengan nada yang canggung- tapi secara sengaja mereka kerap mengangkat isu serius pembicaraan kearah rencana pernikahan. Mungkin seharusnya bagai secercah harapan seperti yang selama ini ditunggu-tunggu, seandainya kemudian yang terjadi diantara kami justru bukanlah tindakan mundur-maju.
Yap. Pernikahan itu nilainya setengah agama, karena begitu besar dan berharga, maka para setan mati-matian menghancurkan setengah agama tersebut-termasuk menggoda siapa saja yang hendak menikah. Bentuk godaannya macam-macam sekali, misalnya, menghadirkan seseorang di masa lalu, menjauhkan hati dari keinginan untuk menikah, memberikan peluang-peluang yang sebenarnya ujian, melemahkan kesetiaan dengan keragu-raguan, melalui pergaulan dan kesenangan selagi bebas berteman, mengiming-imingi kehidupan dengan belum bisa menikah demi karir, dan masih banyak lainnya.
Lelaki digoda pandangannya, perempuan digoda pendengarannya.
Itu kenapa hubungan-jarak-jauh lebih sulit bertahan, karena konon katanya diantara pasangan yang secara fisik berjauhan akan lebih mudah hatinya disusupi godaan menunda pernikahan.
Jadi ini pesannya; kalau hati ga kuat apalagi kalau masih lemah iman, jangan pernah coba-coba hubungan-jarak-jauh karena berpotensi menyebabkan serangan komplikasi hati dadakan dan emosi labil tingkat tinggi. Singkatnya, kalau perlu jangan pacaran dengan yang sejenisnya, Eh I mean that: jangan membuat hubungan dalam bentuk apapun sebutannya Pacaran kek, TTM kek, PHP kek, yang tidak termiliki sebelum waktunya. Loh kan saya juga pernah pacaran? Justru karena dulu nyobain pacaran, makanya sekarang saya saranin jangan. Termasuk hubungan "kakak-adek" tapi rajin berbalas chatting semacam lagi-dimana-mau-ikutan-ngumpul-ga-rame-kalo-kamu-ga-ada, kamu-udah-makan-cepet-makan-gih, udah-mandi-belom-ih-bau-acem, atau ajakan janjian telponan dengan obrolan sok nginggris asik diakhiri kode emoticon sok manis, atau ada lagi yang mau-maunya diciye-ciye-in karena boncengan kesana-kemari. Terdengar receh tapi benar ada(nya). Walau misalnya jelas si dia itu emang cuma tertarik sama kamu -apalagi kalau malah jelas-jelas saling tau dia sudah punya komitmen sama orang lain juga, serius deh, melibatkan diri dalam situasi seperti itu ga bikin derajat Anda lebih baik dari orang yang nerima ajakan pacaran. Yang statusnya pacaran aja bisa makan hati, apalagi yang gapunya status apa-apa, pilihannya cuma dua: kalau sampe ketauan bakal nyakitin hati orang, atau beresiko ujungnya patah hati sendiri.
Silahkan ditimbang dua kali, jangan lupa mikirnya pake hati nurani.
Sekali lagi, ingat. Saython dan kawanannya tidak mudah menyerah dalam menghancurkan sebuah rencana pernikahan.
Ok. Back to topic. Berdasarkan pengalaman yang pernah saya jalani, Pacaran disertai hubungan-jarak-jauh yang terlalu lama itu banyak keselnya, capek bok! Masalah yang sepele tapi berkelanjutan jadi ga mudah terurai logika karena selalu gabisa ngobrolin langsung berdua, sampai semuanya numpuk di dada tinggal nunggu meledak kayak bom waktu. Tantangan terbesar hubungan-jarak-jauh adalah kuat-kuatan nahan sabar menghadapi akumulasi masalah yang selalu tertunda penyelesaiannya karena ga kunjung terbicarakan. Keluhan yang paling sering saya ulang adalah "bisa gak kamu cari cara senang-senangnya yang bikin aku tenang?", dan kemudian berbalas pertanyaan serupa "kelakuan berbahaya aku yang mana sih yang bikin kamu ga bisa percaya?" gitu aja terus dari jaman hape blackberry sampe android, mungkin kalau saat itu bisa langsung muntahin uneg-uneg yang ada kita udah saling jambak-jambakan 💢💢 Lucunya, setiap punya waktu luang buat ketemu kami justru memilih untuk ga membahas hal-hal yang selama ini bikin ribut, yang ada malah adem ayem mesra macem kekasih tak terpisahkan bak film india. Pertanda bahwa ketika sedang bersama adalah cara tercepat untuk tetap merasa baik-baik saja, apapun masalahnya. Tsaaah~~
Positifnya, diantara jeda setiap punya masalah yang gabisa langsung dilampiaskan itu kita jadi punya waktu buat cooling down, ngademin kepala masing-masing, introspeksi-ngerasa bersalah-dan saling memaafkan. Bagi saya, hubungan ini banyak membuat saya belajar merubah prinsip kewanitaan yang umum selama ini. Teorinya, ketika masih single boleh berteman dengan siapa saja, dan hal ini agaknya kurang cocok buat saya, karena faktanya walaupun ramah lingkungan, saya adalah tipe manusia cuek dengan tampang jutek kebangetan kalau sama orang yang baru dikenal terutama lawan jenis, dan ini bikin saya sering banget dibilang sombong. Ya emang udah begini bawaan dari orok mau gimana?
Dulu, saya sering banget ga ngerespon atau tiba-tiba ilang waktu lagi diajak sms atau chat sama orang-orang yang menurut radar saya rada bau-bau modus, termasuk lah si Abang ini. Bukannya apa-apa, saya selektif karena saya malas berurusan sama cowok-cowok alay yang bisa bawa pengaruh besar bikin saya dikutuk orangtua karena saya masih dibawah naungan aturan Abah. Hanya yang berjiwa satria yang mampu menaklukan benteng ini hahahahaha itu juga ternyata butuh bertahun-tahun deng 😝
Dan berdasarkan teorinya lagi, kata orang, kalau pacaran perempuan itu jangan terlalu gampang dibujuk, awalnya saya setuju pendapat ini, tapi kemudian setelah menjalani hubungan ini saya justru jadi royal maaf hahahahaha bukannya apa-apa, selama ini saya merasa sudah terlalu banyak dia memaklumi segala keterbatasan yang saya punya, entah itu pembagian waktu luang yang minim, belum lagi tentang under rules-nya Abah, jadi ketika saya tambah dengan bumbu sok jual mahal, yang ada nanti malah saya jadi sombong beneran. Apalagi selama ini komunikasi kami selalu terjaga baik dan fast respon, dia juga ga pernah absen seharipun mantau kabar walau misalnya saya tau banget padahal dia lagi kesel sama saya, jadi kenapa saya harus belagak songong dengan sengaja ga nge-read pesannya selama 2-12 jam cuma karena lagi ngambek? Dan dalam prakteknya, saya rasa tipe perempuan yang mudah diajak baikan juga ternyata punya nilai plus buat dipertahanin wkwkwkwk
Sekali waktu pernah saya bertanya, apa yang bikin dia masih tetap bertahan, dia bilang tujuan utama saat ini adalah pernikahan yang membutuhkan pasangan yang saling menentramkan, dan bersama saya dia merasa jauh lebih tenang. Sebaliknya ketika dia bertanya kenapa saya masih betah menunggu kalau memang mulai meragu, saya jawab karena saya percaya hubungan ini bisa berjalan jauh bukan karena kebetulan, jadi ketika masih ada peluang saling memperbaiki kenapa harus berhenti berjuang?
Ya. Berjalannya waktu sedikit-banyak kami berdua mulai mengerti bahwa kejenuhan yang sempat dialami bukan karena pasangannya yang mulai terasa membosankan, berubah, atau terlupakan. Tapi karena sudah jenuh menghadapi diri sendiri yang belum juga punya kapasitas menggeser jarak yang jadi pembatas selama ini.
Mungkin memang saya yang masih kurang kalem, atau memang dia juga masih sering kebanyakan gaya.
Saat itulah kami mulai pasrah.
Tapi bukankah diantara kesulitan datangnya bersamaan dengan kemudahan?
Dipuncak banyak-banyaknya masalah dan keraguan itu, ketika saya punya kesempatan berangkat Umroh (baca disini) Abah berkali-kali mengingatkan ditempat-tempat mustajab disana untuk berhajat sebanyak-banyaknya termasuk sesuatu yang selama ini ga pernah dipinta. Jujur aja, saya hampir jarang berdoa tentang jodoh secara spesifik apalagi sampe nyebutin nama seseorang. Entahlah, kayak malu aja gitu padahal jelas-jelas Allah sudah tahu nama siapa yang tertulis buat saya di Lauhul Mahfudz. Sampai suatu hari pas lagi safari malam ke Jabal Rahmah sebenernya dihati udah niat pengen foto kertas bertulisan nama mumpung lagi disini, mengingat dia sudah sering ngirimin foto kertas corat-coret tiap naik gunung. Tapi setelah dipikir-pikir engga jadi ah, too mainstream 😂 Sampai dipuncak, tiba-tiba Abah bisikin "tulis ditemboknya khusus nama orang yang hati sheila mau panggil". What, apaan nih tumbenan? Dengan rada canggung karena sudah disodorin pulpen sambil didorong-dorong akhirnya setelah nemu space kosong tertulislah nama AHMAD KHOTIM disana. Pas mundur beberapa langkah sambil ngeliatin tulisan itu kok malah jadi awkward ya kayak yang alay gitu, akhirnya direvisi aja lah dibagian bawahnya ditambah-tambahin nama-nama ade-ade gue juga. Lah kan emang iya semuanya disayang hahahahaha
Manalah nyangka ga lebih dari 40 hari setelah pulang Umroh, itu orang beneran nongol kerumah bawa perwakilan kakak-kakaknya buat ngutarain lamaran. Ajiblah, sekali-kalinya naik gunung langsung sukses manggil jodoh. Ahay~
Pesan moral:
Kalau keluar rumah maka langkahkanlah kaki ketempat-tempat bermanfaat, jangan buat rame gegayaan cekakak-cekikik doang 😝😝
You will be amazed at how things magically fall into place when you let go of the illusion of control.
Patience is the key, even beautiful flowers take time to bloom.
❤❤❤
❤❤❤
-- AND TO BE CONTINUED --
Bukan, judul diatas bukan karena gue ngebet mau nikah kok...
Hari ini 31 juli 2014 mungkin jadi hari yang melegakan buat salah satu sahabat gue, dia dilamar! Uwuwuwuwuw, nervous? pasti! bahagia? iya dong! mau cepet nyusul? nah itu yang gue perlu tanyakan lebih dalam kepada diri sendiri...
Menikah pasti kepengen lah, tapi kalau ngebet, entahlah...
Secara harfiah (ceilah) gue pacaran udah hampir 5 tahun, ga mungkin lah berharap putus atau kandas begitu aja tanpa berlanjut ke jenjang pernikahan, mimpi punya keluarga bahagia sakinah mawadah warahmah ala Rumana sama Robi juga sering ngiter-ngiter di otak gue, tapi jujur entah kenapa gue rasa-rasanya belum siap kalau harus memutuskan menikah di usia yang sebenernya ga dini-dini amat kayak yang temen-temen gue sudah jalani. Banyak faktor yang mempengaruhi itu, pertama kesiapan calon pasangan gue, ga mungkin dong ngebet merit tapi ga ada yang mau nikahin -,- ketidaksiapannya beragam, secara mental, materi, dan titel S2nya yang memang masih on proggress. Gue sih ga maksa, tapi kadang emang lah ada naluri hati yang keceplosan bertanya-tanya apakah kelak gue bakal bersanding sama dia? Gamau dong gue bangkotan lama-lama di status pacaran~
Tapi kalau seandainya di situasi ini dia mengutarakan maksudnya untuk menikah, entahlah... gue pasti bilang YES I DO, tapi mental gue sepertinya tidak. Bukan, bukan karena gue galau atau gajelas tapi ada faktor-faktor yang bikin gue sedih kalau mikir tentang pernikahan. Itu artinya waktu berlalu dengan sangat cepat, suatu saat gue harus melangkah pergi dari rumah ini, jauh dari pengawasan abah, dan bakal jarang ketemu ade-ade gue. Gue tau itu konsekuensi yang sudah ga aneh, tapi yaitulah bedanya gue sama temen-temen gue, mungkin...
Ikatan batin di keluarga gue sangat kuat, entah karena pengaruh dari minusnya mama, atau karena ke over-protective-an abah, yang pasti gue tau satu hal, membayangkan meninggalkan (atau ditinggalkan) mereka aja adalah hal yang paling cepat bikin genangan airmata gue menggumpal, apalagi kalau terjadi beneran :(:(:( I'm going cry really!
loh emang kenapa? Menikah bukan berarti memutus tali silaturrahmi sama orangtua dan saudara-saudara, kan? Mungkin mereka akan bilang begitu, tapi yaitulah gue beda! Karena gue ga terbiasa untuk hidup selain dikelilingi keluarga, sulit dijelaskan emang, tapi contoh kecil lah, banyak orang yang sudah terbiasa berdikari tanpa orangtua, jauh dari saudara-saudaranya, terkadang melibatkan pacar dalam setiap rutinitasnya, malah ada beberapa orang yang sudah biasa membaurkan diri sama keluarga pacar dibanding keluarga sendiri -_- tapi gue enggak, aseli murni segala langkah yang gue lakukan di support dan selalu dalam lingkaran keluarga, itu yang bikin ikatan didalam keluarga ini kuat lebih dari gue kenal diri gue sendiri.
Menikah pasti kepengen lah, tapi kalau ngebet, entahlah...
Secara harfiah (ceilah) gue pacaran udah hampir 5 tahun, ga mungkin lah berharap putus atau kandas begitu aja tanpa berlanjut ke jenjang pernikahan, mimpi punya keluarga bahagia sakinah mawadah warahmah ala Rumana sama Robi juga sering ngiter-ngiter di otak gue, tapi jujur entah kenapa gue rasa-rasanya belum siap kalau harus memutuskan menikah di usia yang sebenernya ga dini-dini amat kayak yang temen-temen gue sudah jalani. Banyak faktor yang mempengaruhi itu, pertama kesiapan calon pasangan gue, ga mungkin dong ngebet merit tapi ga ada yang mau nikahin -,- ketidaksiapannya beragam, secara mental, materi, dan titel S2nya yang memang masih on proggress. Gue sih ga maksa, tapi kadang emang lah ada naluri hati yang keceplosan bertanya-tanya apakah kelak gue bakal bersanding sama dia? Gamau dong gue bangkotan lama-lama di status pacaran~
Tapi kalau seandainya di situasi ini dia mengutarakan maksudnya untuk menikah, entahlah... gue pasti bilang YES I DO, tapi mental gue sepertinya tidak. Bukan, bukan karena gue galau atau gajelas tapi ada faktor-faktor yang bikin gue sedih kalau mikir tentang pernikahan. Itu artinya waktu berlalu dengan sangat cepat, suatu saat gue harus melangkah pergi dari rumah ini, jauh dari pengawasan abah, dan bakal jarang ketemu ade-ade gue. Gue tau itu konsekuensi yang sudah ga aneh, tapi yaitulah bedanya gue sama temen-temen gue, mungkin...
Ikatan batin di keluarga gue sangat kuat, entah karena pengaruh dari minusnya mama, atau karena ke over-protective-an abah, yang pasti gue tau satu hal, membayangkan meninggalkan (atau ditinggalkan) mereka aja adalah hal yang paling cepat bikin genangan airmata gue menggumpal, apalagi kalau terjadi beneran :(:(:( I'm going cry really!
loh emang kenapa? Menikah bukan berarti memutus tali silaturrahmi sama orangtua dan saudara-saudara, kan? Mungkin mereka akan bilang begitu, tapi yaitulah gue beda! Karena gue ga terbiasa untuk hidup selain dikelilingi keluarga, sulit dijelaskan emang, tapi contoh kecil lah, banyak orang yang sudah terbiasa berdikari tanpa orangtua, jauh dari saudara-saudaranya, terkadang melibatkan pacar dalam setiap rutinitasnya, malah ada beberapa orang yang sudah biasa membaurkan diri sama keluarga pacar dibanding keluarga sendiri -_- tapi gue enggak, aseli murni segala langkah yang gue lakukan di support dan selalu dalam lingkaran keluarga, itu yang bikin ikatan didalam keluarga ini kuat lebih dari gue kenal diri gue sendiri.
Suatu saat tapi pasti, gue akan hidup tanpa mereka, dengan orang-orang baru, keluarga kecil yang gue bina sendiri.
Suatu saat tapi pasti, gue akan punya agenda keluarga sendiri tanpa mereka, bersenang-senang yang gue bingung gimana cara membaginya sama mereka, karena selama ini apapun yang gue punya selalu gue bagi sama mereka. Begitupun sebaliknya, I am pretty sure gue bakal envy kebangetan ketika mereka punya agenda keluarga kecil yang mereka lakukan tanpa gue.
I'm not ready for it, yet!
itu kenapa gue ga mau ngebet-bernafsu-menggebu-maksa minta dikawinin, gue menikmati setiap perjalanan hidup gue, masih menikmati berantem sama ade-ade gue, marahin ade-ade gue, makan masakan mama, dimarahin dan dibawelin dengan amazing rules-nya abah, menikmati sisa-sisa hari gue yang masih bisa memaksimalkan kebersamaan ini sama mereka. Dalam setiap tangis, canda, tawa, keluh kesah, dan apapun yang sudah gue lewati bersama mereka -terutama-abah- seumur 22 ini. Gue pengen abah merestui setiap langkah gue dengan kebanggaan bahkan sebelum gue meminta restu untuk menikah, yang artinya gue pengen memberi "lebih dari sesuatu" yang ditandai kebanggaan dan ridho mereka atas pencapaian yang gue bisa kasih maksimal buat mereka sebelum gue minta izin untuk dibawa orang lain, ya gitu lah kira-kira pengennya, Insha Allaah, Aamiin...
Suatu saat tapi pasti, gue akan punya agenda keluarga sendiri tanpa mereka, bersenang-senang yang gue bingung gimana cara membaginya sama mereka, karena selama ini apapun yang gue punya selalu gue bagi sama mereka. Begitupun sebaliknya, I am pretty sure gue bakal envy kebangetan ketika mereka punya agenda keluarga kecil yang mereka lakukan tanpa gue.
I'm not ready for it, yet!
itu kenapa gue ga mau ngebet-bernafsu-menggebu-maksa minta dikawinin, gue menikmati setiap perjalanan hidup gue, masih menikmati berantem sama ade-ade gue, marahin ade-ade gue, makan masakan mama, dimarahin dan dibawelin dengan amazing rules-nya abah, menikmati sisa-sisa hari gue yang masih bisa memaksimalkan kebersamaan ini sama mereka. Dalam setiap tangis, canda, tawa, keluh kesah, dan apapun yang sudah gue lewati bersama mereka -terutama-abah- seumur 22 ini. Gue pengen abah merestui setiap langkah gue dengan kebanggaan bahkan sebelum gue meminta restu untuk menikah, yang artinya gue pengen memberi "lebih dari sesuatu" yang ditandai kebanggaan dan ridho mereka atas pencapaian yang gue bisa kasih maksimal buat mereka sebelum gue minta izin untuk dibawa orang lain, ya gitu lah kira-kira pengennya, Insha Allaah, Aamiin...
Kalau kata devi mainavati ke parvati di drama bollywood devon ke dev mahadev (mahadewa) episode yang gue tonton kemaren, ehm.. ehm.. "ibu berharap engkau menemukan pendamping yang menyayangimu dengan kasih yang luar biasa sehingga engkau terlupa kepada kami orangtuamu", maksudnya bukan melupakan versi durhaka loh ini, tapi setelah menikah si anak ini mendapat kebahagiaan sebenar-benarnya kebahagiaan jadi dia ga ada penyesalan dan ga perlu meng-compare kehidupan saat dia sebelum dan setelah menikah, nah! Itu yang gue pengen, gue gamau dikemudian hari bicara dalam hati "seandainya dulu gue begitu..." atau "waktu dulu gue ga begini nih...", Karena gue yakin kalau gue bisa memaksimalkan kebahagiaan gue dikeluarga yang sekarang, nanti gue akan dapet kehidupan bahagia yang hakiki juga dengan keluarga binaan gue dimasa depan. Hidup itu ga gratis, lo ga bisa minta jaminan hidup bahagia sentosa jaya dengan orang yang baru lo kenal beberapa tahun belakangan tapi lo lupa ngelunasin hutang-hutang kebahagiaan yang sudah orang-orang disekeliling lo kasih buat lo selama ini sebelumnya. Inget, malaikat kanan-kiri lo adalah akunting terbaik sepanjang jaman! berjodoh dengan seseorang itu memang sudah garisan takdir, tapi terlalu dini mikirin jodoh sampai lupa yang mana prioritas sebelum jodoh itu datang, itu namanya habis manis sepah dibuang~ semut diujung benua dicariin, gajah yang ditunggangin ga dianggap. Hih. (Maklumin yak, efek rutin nonton mahabrata jadi bahasanya agak lebay gitu deh).
Intinya, suatu hari, gue tau Allah akan mengatur situasi yang paling tepat untuk dia (entah pria beruntung mana) menjemput gue saat gue sudah siap untuk menikmati kebahagiaan gue dikehidupan selanjutnya :)
Well, tidak mengurangi kebahagiaan gue untuk mereka dihari ini,
![]() |
| Congrats for you both Viensa Andjani Pratiwi & Teguh Nico Hartanto. |
Hai hai. I'm baaaaccckkk..
akhir-akhir ini gue emang lagi demen banget mantengin blog-blog seru, positifnya sih gue jadi semangat nge-blog lagi. lagian kasian juga kemaren kan ade gue udah cape-cape design blog gue yang udah rapuh berdebu karena kurang dijamah ditulisin. HAHAHA.
Jadi kemarenan nih gue ke kondangan tante gue, udeh lumayan berumur, sebutlah generasi era 70-an dan baru menikah di usia yang memang sudah terlalu matang. meskipun prianya seorang duda tapi eits jangan salah, tante gue masih perawan ting-ting. Tanya kenapa? karena jodohnya ya emang baru nyampe sekarang.
Jadi kemarenan nih gue ke kondangan tante gue, udeh lumayan berumur, sebutlah generasi era 70-an dan baru menikah di usia yang memang sudah terlalu matang. meskipun prianya seorang duda tapi eits jangan salah, tante gue masih perawan ting-ting. Tanya kenapa? karena jodohnya ya emang baru nyampe sekarang.
Nah sempet tuh ya kita di mobil ngobrolin tentang hal ini, tepatnya tentang jodoh. jadi tante gue itu kerjaannya emang dirumah doang (ya namanya juga dikampung) nemenin ibunya (kakaknya nenek gue). Karena sang emak sudah tua akhirnya beliau berpetuah, kira-kira gini:
"Nak, ibu kan sudah tua, ibu ga bisa membiarkan kamu hidup nanti sebatang kara, kamu harus berusaha untuk menemukan pasangan hidup, karena belum tentu kedepannya ibu selalu bisa mendampingi kamu..." #tsah (dialog diatas sih cuma dramatisasi bahasa gue doang, percakapannya mah beneran ciyus loh).
Berangkat dari obrolan ringan itu, om gue tiba-tiba nyeletuk, "yang namanya jodoh ga perduli lo ada dimana, gimanapun keadaan lo, nanti waktu yang bakal mempertemukan. Meskipun kerjaannya cuma diem dirumah juga tetep aja ada yang nyamperin, ga perlu koar-koar bikin status BBM/twitter nyari jodoh atau majang gaya heboh di path/instagram biar dilirik". Iye sih bener banget #jleb.
Gue jadi mikir, gue lama-lama pacaran 4 tahun, pegimane kalau si doi entaran bukan jodoh gue? -_________- aaakkk kepriben iki nyong?
Gue jadi mikir, gue lama-lama pacaran 4 tahun, pegimane kalau si doi entaran bukan jodoh gue? -_________- aaakkk kepriben iki nyong?
Ngomong-ngomong tentang jodoh yak, setiap cewek pasti punya dong DREAM BOY, begitupun gue selayaknya wanita lemah biasa yang butuh pahlawan. cailah~
Sesuai dengan ajaran yang gue anut, setiap muslimah kudu wajib fardhu 'ain hukumnya mengidolakan Rasulullah SAW sebagai kriteria impian. Dan katanya Rismadilla menurut sunnah Rasul, ~ it sounds so perfect yeap?
ya emang siapa sih yang kagak kepengen punya partner hidup yang bisa dijadikan suri tauladan untuk keluarga sakinah mawaddah warahmah? PENGENNYA PAKE BINGIT BRAAAY!
Tapi jujur aja nih, kalau bisa digambarkan dengan sosok yang bisa gue lihat saat ini (di era gue tentunya, ya keleus ni postingan ada yang baca 10-20 tahun lagi), gue punya beberapa kriteria dengan sample cowok-cowok ketjeh sebagai berikut:
1. CAKEP
Gue gamau munafik kalau sering banget nentuin tipe lawan jenis itu berdasarkan "packing"nya terlebih dahulu. kalau dari luarnya aja ga layak dijabanin ngapain juga dipertimbangkan toh? cuma bakal menuhin otak lo sama virus galau doang broh~
![]() |
| Guanteng maaaaaakkk! :3 *mimisan* |
2. SOLEH
Bukan maksudnya gue pengen punya pacar namanya Soleh, tapi kalau diizinkan sih gue pengen kelak dapet pasangan yang ga cuma seiman tapi juga pandai membimbing alias ya soleh itu tadi. yang tipe-tipe muka syahdu dipandang, demen ngaji, tau hukum-hukum syariah islam. dan entah kalau digambarkan dari sosok "suami" yang begitu kayaknya paling tepat cuma Aa Gym deh..
Tau kan tau dong siape Aa Gym, kalau ibu-ibu kelompok anti poligami pasti musuhan banget sama beliau, gue? bukan mendukung poligami, tapi bukan maksudnya entar kepengen dipoligami juga sih. gue cuma melihat ini sebagai masalah personal yang yah, bukan berarti karena beliau tokoh pemuka agama nasional kita berhak "ngubek-ngubek" hak asasi dan pribadi dia. #sokbijak
Nah waktu gue masih SMP apa SMA gitu pas booming Aa Gym, gue
SELALU mantengin doi di tipi, wajahnya syahdu, tutur katanya lembut,
perilakunya bersahaja dan tidak sombong, ilmunya tidak menggurui tapi
merangkul bersahabat, makanya gue sedih dan kehilangan sekarang doi
jarang nongol on air lagi :(he's irreplaceable..
Kalau gue pribadi sih tetep lebih demen Aa Gym yang beristri dua,
daripada ustad yang (ngaku) namanya soleh, yang
(katanya) cinte beneerrr ame bini sampe bajunya selalu matching eye catching berdua-dua tapi ngapa-ngapain ngundang impotemen muluk. ketawa najis aja sih gue tiap nonton beritanya -_________-
Nah kan jadi ngelantur.
Nah kan jadi ngelantur.
Saking
demennya gue pernah tuh ya khatam-in 2-3 kali buku biografi beliau yang
judulnya GYMNASTIAR (kalau ga salah) sampe hafal 7 nama anak-anaknya
(dari teh ninih) yang semuanya diawali huruf G.
Udah gitu gue pernah ketemu doi dua kali, sekali di Dunkin Donuts airport Halim, sekali waktu beliau baru pulang umroh di aiport Soetta, waktu itu ada deh kalau ga salah fotonya, nanti gue cari deh di upload belakangan yak.. Nah asli deh sumpah beliau itu bersahaja banget bahkan ga canggung duduk dilantai depan mushola airport! woles aja gitu lesehan orang hilir mudik bolak balik ada yang minta salaman, ada yang foto-foto tapi beliau kalem aja gitu. mungkin kalau ustad yang (ngaku) namanya Soleh itu bakal minta permadani emas dulu kali ye baru mau lesehan ditempat umum :p #salahfokuslagi
Udah gitu gue pernah ketemu doi dua kali, sekali di Dunkin Donuts airport Halim, sekali waktu beliau baru pulang umroh di aiport Soetta, waktu itu ada deh kalau ga salah fotonya, nanti gue cari deh di upload belakangan yak.. Nah asli deh sumpah beliau itu bersahaja banget bahkan ga canggung duduk dilantai depan mushola airport! woles aja gitu lesehan orang hilir mudik bolak balik ada yang minta salaman, ada yang foto-foto tapi beliau kalem aja gitu. mungkin kalau ustad yang (ngaku) namanya Soleh itu bakal minta permadani emas dulu kali ye baru mau lesehan ditempat umum :p #salahfokuslagi
3. TAJIR
Kedengerannya sih kayak cewek matre ya, tapi gimana dong itu emang penting bangets, ada pepatah dangdut mengatakan hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga, tapi kalau hidup cuma modal cinta, yakin mau makan cinta doang? gue sih ogah, entar yang ada kebanyakan makan cinta pantat gue kek cetakan amor pup-nya bentuk lope-lope :|
![]() |
| kalau sama love's king yang kek begini sih demen~ |
Kenapa SRK? pertama, karena doi cinta pertama gue, sumpah ciyus beneran gue pertama kali demen nonton cinta-cintaan gegara film KUCH-KUCH HOTA HAI, terus kesini-kesini juga tetep aja banyak ngidolain film-film doi lainnya kek MOHABBATEIN, KABHI KHUSHI KABHI GHAM, MY NAME IS KHAN, RAB NE BANA DI JODI,JAB TAK HAI JAN, dll.
eh ini ngapa jadi ngomongin pilem SRK -_________-
jadi kan gue pengen ngebahas kenapa SRK gue masukin nominasi cowok tajir idaman gue, yaiyalah, secara doi pilemnya banyak yang box office, king of bollywood juga. kayaknya doi ngeludah aja keluarnya jadi duit, widiiihh..
nih ya gue kasih liat "invastasi terlihat"nya doi, mohon bagi yang ga kuat iman jangan dilanjutin ya, takut nekat minta di-khilafi kan repot...
![]() |
| Rumah 1 |
![]() |
| Rumah 2 |
![]() |
| Rumah 3 |
Tahaaaannn, itu baru rumahnya, belum lagi "rumah berjalan"-nya *megapmegap lalu pingsan*
Gue yakin sih 1000% pasti cowok gue angkara murka kalo liat postingan ini majang (banyak) wajah lelaki lain, tapi biar lah, pan blog gue curahan hati gue, HAHAHA. Maap ye bang! #kedipinmate
Supaya kagak ngambek nah ini dah gue pajang juga biar afdhol...
Udah dong ya cukup kuat banget alasan kenapa gue masukin doi di list pria idaman gue *brb terbang ke India*
4. CERDAS BERMARTABAT
gue sebenernya agak bingung untuk mendedikasikan nominasi ini buat siapa, tapi entah kenapa tiba-tiba gue terinspirasi sama Ban-Ki Moon, sekjen PBB itu loh..
Di salah satu artikel gue pernah baca Ban-Ki Moon bikin pernyataan bahwa menghimbau gerakan #stop war while Ramadhan bagi kaum-kaum di negara Islam yang lagi berperang. Orang asing aja bisa menghargai bulan suci Ramadhan, kenapa kita tidak berani?
Gue juga pernah liat di salah satu variety show di Korea (We got married yonghwa-seohyun couple episode) pernah mengutip kata-kata Ban-Ki Moon:
"Anybody can study, depending on how much they put the effort" - Ban-Ki Moon.
Wuidiiihh, mantaaaapphh (y)(y)
5. BIJAKSANA
Nah! ini yang jarang banget dipikirin ciwi-ciwi dalam mempertimbangkan calon pasangan. Susah loh cari pasangan yang demokratis tapi tetap tegas memimpin, dan untuk nominasi sosok yang satu ini gue anugerahkan kepadaaaaaa... jengjeng.. BOKAP GUE SENDIRI! YEY!
gue sebenernya agak bingung untuk mendedikasikan nominasi ini buat siapa, tapi entah kenapa tiba-tiba gue terinspirasi sama Ban-Ki Moon, sekjen PBB itu loh..
![]() |
| #respect Ban-Ki Moon |
Gue juga pernah liat di salah satu variety show di Korea (We got married yonghwa-seohyun couple episode) pernah mengutip kata-kata Ban-Ki Moon:
"Anybody can study, depending on how much they put the effort" - Ban-Ki Moon.
Wuidiiihh, mantaaaapphh (y)(y)
5. BIJAKSANA
Nah! ini yang jarang banget dipikirin ciwi-ciwi dalam mempertimbangkan calon pasangan. Susah loh cari pasangan yang demokratis tapi tetap tegas memimpin, dan untuk nominasi sosok yang satu ini gue anugerahkan kepadaaaaaa... jengjeng.. BOKAP GUE SENDIRI! YEY!
![]() |
| ihiiiww, cakep ye... iyalah anaknya aja keceee *joget caesar bareng bokap* |
Bokap gue tuh udah paling asik deh, galak, baik hati, gaul, tidak sombong, rajin menabung tapi juga rajin menguras tabungan karena anaknya banyak, HAHAHA. pokoknya FULL PACKAGE dah! :*:*
Kalau ada yang nanya tipe cowok, I'll be answer proudly: "KAYAK ABAH DOOONGG"
Kata orang sih karena gue anak perempuan pertama dan itu wajar kalau bokap gue protected dan lebih dekat sama gue dibanding yang lain, tapi engga juga sih, karena emang gue sangat amat bangga dan bersyukur punya orangtua seperti abah :3 (dan semoga begitu juga sebaliknya HAHAHA).
Abah itu tipikal orang yang open minded, ngobrol apa aja nyambung dan nyaman, abah juga pinter membaca situasi secara psikologis jadi bisa menganalogikan semua hal yang jadi tanda tanya besar buat lawan bicaranya (terutama yang keras kepala kayak gue). Maybe next time gue bakal posting beberapa petuah abah yang asik banget buat diobservasi dan dieksperimenkan.
PERTANYAANNYA, ada ga sih makhluk yang punya semua yang gue bilang tadi? Entahlah. :|
tapi kalau sesosok yang menurut gue AS MY IDEAL MAN itu adalah...
Nah! yang kek gini nih!
, Pendiri dan pemimpin Majelis Bin Yahya.
Gue pribadi sih udah kenal beliau dari gue masih bocah, soalnya dulu waktu jaman masih tinggal di Kampung Melayu kite tetanggaan, tapi gue baru kenal banyak personal tentang doi justru waktu pindah ke Bogor, soalnya bokap gue sama abahnya Habib itu sohib-an, nah abis itu kita jadi sering main ke villa tempat Habib ini tinggal pas jaman doi masih kuliah. (waktu itu gue sering cuek aje main-main ala bocah di kolam renang villa bareng segambreng ade-ade gue, ya ampun najis banget dah gue kalo ingetnya, aduh emmaaaaakkkk..) 2 tahun pasca beliau lulus kuliah eh gue malah disuruh bokap masuk kekampus yang sama juga, dari sana gue banyak tau tuh dicerita-ceritain tentang beliau.
Sampe akhirnya beliau aktif dakwah-dakwah, bokap gue jadi penasehat pribadi beliau deh sampe sekarang...
Cakep, tinggi, putih, pinter, kaya, soleh, muda, terkenal,
tapi sayang udeh punya anak bini shaaayy... hiks.
Iya. beliau merit setelah lulus kuliah, dan sekarang udah punya anak 2 malahan.
Kenapa orang perfect cepet dapet jodohnya Ya Allaah.. Kenapa? Kenapaa?? Kenapaaa???
Tapi bener ciyus habibnya ini sumfeh dah emang kebangetan keren, kadang kalau diajakin bokap ketemu doi gue suka nolak, abis jadi deg-deg-serr gimaneee gitu, sering parno aja mikir jangan-jangan doi bisa baca pikiran gue, kan kalo ketauan gue naksir jadi berabe. HAHAHA ababil amat yak -___________-
Kalau ada yang nanya tipe cowok, I'll be answer proudly: "KAYAK ABAH DOOONGG"
Kata orang sih karena gue anak perempuan pertama dan itu wajar kalau bokap gue protected dan lebih dekat sama gue dibanding yang lain, tapi engga juga sih, karena emang gue sangat amat bangga dan bersyukur punya orangtua seperti abah :3 (dan semoga begitu juga sebaliknya HAHAHA).
Abah itu tipikal orang yang open minded, ngobrol apa aja nyambung dan nyaman, abah juga pinter membaca situasi secara psikologis jadi bisa menganalogikan semua hal yang jadi tanda tanya besar buat lawan bicaranya (terutama yang keras kepala kayak gue). Maybe next time gue bakal posting beberapa petuah abah yang asik banget buat diobservasi dan dieksperimenkan.
PERTANYAANNYA, ada ga sih makhluk yang punya semua yang gue bilang tadi? Entahlah. :|
tapi kalau sesosok yang menurut gue AS MY IDEAL MAN itu adalah...
![]() |
| Do you know who's this guy?? |
, Pendiri dan pemimpin Majelis Bin Yahya.
Gue pribadi sih udah kenal beliau dari gue masih bocah, soalnya dulu waktu jaman masih tinggal di Kampung Melayu kite tetanggaan, tapi gue baru kenal banyak personal tentang doi justru waktu pindah ke Bogor, soalnya bokap gue sama abahnya Habib itu sohib-an, nah abis itu kita jadi sering main ke villa tempat Habib ini tinggal pas jaman doi masih kuliah. (waktu itu gue sering cuek aje main-main ala bocah di kolam renang villa bareng segambreng ade-ade gue, ya ampun najis banget dah gue kalo ingetnya, aduh emmaaaaakkkk..) 2 tahun pasca beliau lulus kuliah eh gue malah disuruh bokap masuk kekampus yang sama juga, dari sana gue banyak tau tuh dicerita-ceritain tentang beliau.
Sampe akhirnya beliau aktif dakwah-dakwah, bokap gue jadi penasehat pribadi beliau deh sampe sekarang...
![]() |
| Mantep kagak tuh gayanye Bang Habib :3 |
Iya. beliau merit setelah lulus kuliah, dan sekarang udah punya anak 2 malahan.
Kenapa orang perfect cepet dapet jodohnya Ya Allaah.. Kenapa? Kenapaa?? Kenapaaa???
Tapi bener ciyus habibnya ini sumfeh dah emang kebangetan keren, kadang kalau diajakin bokap ketemu doi gue suka nolak, abis jadi deg-deg-serr gimaneee gitu, sering parno aja mikir jangan-jangan doi bisa baca pikiran gue, kan kalo ketauan gue naksir jadi berabe. HAHAHA ababil amat yak -___________-
![]() |
| Abang Habib, pesonamu mengalihkan duniaku~ *lalu ditimpuk jamaah* |
Gue yakin sih 1000% pasti cowok gue angkara murka kalo liat postingan ini majang (banyak) wajah lelaki lain, tapi biar lah, pan blog gue curahan hati gue, HAHAHA. Maap ye bang! #kedipinmate
Supaya kagak ngambek nah ini dah gue pajang juga biar afdhol...
![]() |
| Penampakan ayang jorelopeunyu:* |
Kata tante gue sih dari fotonya ganteng, aslinya? ah.. jangan ditanya. beuuuhh sulit dijelaskan deh dengan kata-kata. liat aja noh idungnya megar gak nahaaann.. HAHAHA.
Gue kenal pria ini sejak 4 tahun lalu, tepatnya tahun 2009 bulannya entahlah gue lupa, yang pasti ceritanya sangat panjang dan terlalu konyol untuk gue share di publik :p
Gue merasa nyaman aja sama dia, beda sama porsi "pacar", dia udah kayak kakak, sahabat, mentor, temen bercanda, temen sharing, temen melow-melow-an (halah) soalnya gue bukan tipikal orang yang gampang mewek-mewek depan orang, tapi didepan dia gue bisa jadi diri sendiri, ibaratnya mau gue ngupil-ngentut-ngorok depan dia woles aja gitu menerima segala bentuk kekampretan gue yang ga lazim HAHAHA. mungkin gitu juga sebaliknya (kali)..
Doi (dulunya) kakak senior gue, beda fakultas sih, sekarang dia nerusin S2 disalah satu perguruan tinggi Islam di Jakarta, sedangkan gue sekarang (nyasar) disini :'( sejauh ini sih selalu keep contact via bbm, sms, twitter, dan fasilitas LDR lainnya tapi sering banget ribut-ribut karena sinyal jelek. gue sih sebenernya yang sering memicu pertikaian, maklum wanita kekurangan kasih sayang ngahahahaha. najong.
Yang paling gue kangenin apa ya, sama aja sih kayak apa yang gue kangenin dirumah, solat berjamaah, ngaji bareng, yang gitu-gitu deh. belum lagi kemana-mana ada yang ngenterin, kini daku bagai butiran debu tanpa dirimu kasih~ *elap ingus*
Jujur aja dalam hubungan gue sama si akang ini belum jelas arahnya, maksudnya sebagai "pasangan" kita memang punya buanyaaakk planning bagaimana kedepannya, tapi kita belum ada mengarah targetnya kapan, wong kitanya juga masing-masing masih belum siap penuh secara mental dan materil buat kearah sana. mungkin lebih tepatnya mental sih..
Gue punya banyak sekali mimpi dengan target pencapaian (pengennya sih) sebelum menikah, karena gue sadar sebagai seorang cewek ya kodrat gue bakal jadi istri seseorang yang wajib gue taati, dan sekali lagi, menyatukan dua kepala dengan beragam mimpi itu ga mudah, jadi kenapa ga gue manfaatkan "masa leluasa" gue ini dulu untuk mencari tahu, mencoba, meraih, dan mendapat segala hal yang jadi mimpi-mimpi gue, kan?
dan gue rasa dia-yang-kelak-jadi-imam juga seharusnya begitu.
Sok bijak banget yak omongan gue, HAHAHA. ok let's skip it.
Oh iyaak, gue kemaren pernah dijodoh-jodohin tapi kayaknya gue masih belum siap mental deh merit ta'arufan begituan :| jadi hasilnya yaaa mission failed..
Sebenarnya jodoh itu bukan masalah selera doang, tapi ketepatan waktunya juga yang harus disesuaikan sama kondisi mental kita, toh pilihan sendiri belum tentu menjamin yang terbaik. Cuma seengaknya jangan sampai ada penyesalan dikemudian hari apalagi kalau sampe nyalah-nyalahin oranglain, mau itu orangtua, keluarga, sahabat, guru, atau siapapun yang berperan sebagai mak comblang #ngeles.
Kembali lagi, jodoh itu kayak E-KTP.
- Bisa aja daftar paling duluan, dapetnya paling belakangan.
- Bisa aja udah dapet eh terus ilang (atau ganti alamat, dll), dan diganti pake KTP sementara.
.....dan harusnya memang jodoh itu kayak E-KTP, NIK-nya cukup sekali buat seumur hidup :)
Gue kenal pria ini sejak 4 tahun lalu, tepatnya tahun 2009 bulannya entahlah gue lupa, yang pasti ceritanya sangat panjang dan terlalu konyol untuk gue share di publik :p
Gue merasa nyaman aja sama dia, beda sama porsi "pacar", dia udah kayak kakak, sahabat, mentor, temen bercanda, temen sharing, temen melow-melow-an (halah) soalnya gue bukan tipikal orang yang gampang mewek-mewek depan orang, tapi didepan dia gue bisa jadi diri sendiri, ibaratnya mau gue ngupil-ngentut-ngorok depan dia woles aja gitu menerima segala bentuk kekampretan gue yang ga lazim HAHAHA. mungkin gitu juga sebaliknya (kali)..
![]() |
| Kayak gini misalnya, tengah malem LDR-an ngirim poto gaje =_=" |
Yang paling gue kangenin apa ya, sama aja sih kayak apa yang gue kangenin dirumah, solat berjamaah, ngaji bareng, yang gitu-gitu deh. belum lagi kemana-mana ada yang ngenterin, kini daku bagai butiran debu tanpa dirimu kasih~ *elap ingus*
![]() | |
| Kakang.. eneng kangeuuunn akaaang ihikss :'( |
Gue punya banyak sekali mimpi dengan target pencapaian (pengennya sih) sebelum menikah, karena gue sadar sebagai seorang cewek ya kodrat gue bakal jadi istri seseorang yang wajib gue taati, dan sekali lagi, menyatukan dua kepala dengan beragam mimpi itu ga mudah, jadi kenapa ga gue manfaatkan "masa leluasa" gue ini dulu untuk mencari tahu, mencoba, meraih, dan mendapat segala hal yang jadi mimpi-mimpi gue, kan?
dan gue rasa dia-yang-kelak-jadi-imam juga seharusnya begitu.
Sok bijak banget yak omongan gue, HAHAHA. ok let's skip it.
Oh iyaak, gue kemaren pernah dijodoh-jodohin tapi kayaknya gue masih belum siap mental deh merit ta'arufan begituan :| jadi hasilnya yaaa mission failed..
Sebenarnya jodoh itu bukan masalah selera doang, tapi ketepatan waktunya juga yang harus disesuaikan sama kondisi mental kita, toh pilihan sendiri belum tentu menjamin yang terbaik. Cuma seengaknya jangan sampai ada penyesalan dikemudian hari apalagi kalau sampe nyalah-nyalahin oranglain, mau itu orangtua, keluarga, sahabat, guru, atau siapapun yang berperan sebagai mak comblang #ngeles.
| Jodoh itu kayak E-KTP, sering PHP kapan dapetnya~ |
- Bisa aja daftar paling duluan, dapetnya paling belakangan.
- Bisa aja udah dapet eh terus ilang (atau ganti alamat, dll), dan diganti pake KTP sementara.
.....dan harusnya memang jodoh itu kayak E-KTP, NIK-nya cukup sekali buat seumur hidup :)
Bahkan setitik pun tak terbesit di benakku untuk bisa sedekat ini dengan dia. Terlihat daun warna pelangi, ya… rasanya seperti mimpi bodoh yang yang layak di cemooh dunia. Dan akulah yang memimpikan hal itu, (hey,, aku tak semewah aray dan ikal dalam sekuel sang pemimpi sobat) Aku hanya pemimpi yang tuli akan sinar mentari dan buta terhadap bisingnya metro mini! Benda mati disekelilingku bahkan enggan meloleh padaku seraya terbahak serempak! Bahkan bila mereka bisa meludah sekalipun, pasati akan mereka lakukan padaku saat mereka melihat tingkah ku. Tingkah idiot yang senang saat dia membalas sms ku, tertawa sendiri saat dia menungguku, *haaaaahaaahh padahal tidak*, dan gagap saat dia mengangkat telepon dariku. Tapi aku tak peduli, inilah pilihanku, yang saat itu aku yakini, dan akan kubuktikan kalau kali ini, cinta ku akan utuh, tidak lagi terbagi dua karena cinta sendiri. Bodonya, hingga palung hati ini pun bertingkah sama seperti benda mati disekelilingku, aku tetap tak peduli. Itulah tingkah tolol pemimpi hina seperti diriku. Pemimpi hina, yang berharap segaris tipis cinta rapuhnya akan terbalas. Dan kini bukan hanya benda mati dan palung hati yang tertawa lepas, laba2 di pojok kamarku pun berkelakar seraya berteriak mencemoohku hingga dunia ini tau! Yaaaaa… dunia ini tau bahwa aku telah ditolak cintanya. Cinta yang awalnya ku yakini utuh. “ ehhhh, eh, lu kenapa? Gu seneng ko jadi temen lo” Arrrgggghh, ingin berteriak, tapi memang rasanya semua telah selesai. Aku akan kembali menata rusaknya hidupku beberapa hari ini, karena indahnya cinta yang sesaat ku resapi dalam diri. Selamat tinggal cinta,, “thx banget ya,, lu selalu bikin gu seneng dengan sikap lu atas semua pertanyaan dan tingkah gu”... Belum sempat nyatakan “gu sayang sama lu” aku akan pergi,,, pergi dengan membawa sebelah cinta sendiri…! DAMN!M_M_M_in_love_with_I
Orang kalo udah sayang, nggak peduli lagi ada garansinya disayang balik atau nggak
Kalimat diatas gue copy dari status kak Masnur, emm.. itu statusnya emang bener sih. mungkin itu bahasa halusnya dari kalimat "cinta ditolak dukun bertindak" kali yah *apadeh, ga nyambung*
disadari atau enggak banyak orang yang terlibat dalam dilema kayak gini, sayang sama orang lain yang belum tentu sayang sama kita. ga perduli mau disayang balik atau enggak sama orang yang kita sayang. rela aja terus nempelin orang yang kita gebet walaupun gak ada jaminan orang itu bakal ngejadiin kita "the only one" ataupun enggak. dan hasilnya, kalau emang jodoh ya sukur.. kalau engga? yaahh.. makan aja tuh cinta. akibatnya? jadi korban "galau" disemua jejaring sosial. -.-
| Aku Resah, Aku Galau, Aku Kacau, aw aw aw~ |
Masalahnya, temen gue bukan seorang-dua orang yang menderita kayak gini. buaaanyyaaaaaakkkk banget ! dan gue cuma bisa apa selain dengerin curhatan mereka sampe congean.
bukan gue mau kejam ya bilang gini, tapi emang bener. habis pada mewek berjam-jam, cape-cape ngelap-lapin ingus, dan besoknya mau lagi aja dideketin sama orang yang kemaren bikin dia nangis beleber-beleber itu ! trus besoknya ngerasa sakit hati lagi karena dicampakkan (lagi), trus nangis (lagi), trus deket (lagi-lagi), trus nangis (lagi-lagi-lagi), trus deket (lagi-lagi-lagi-lagi). gitu aja terus sampe gue cape ngetik -.-
![]() |
| Cinta Galau season 672 #eaaakk |
apapun lah itu, virus galau tuh engga banget !
masih ngutip kata-kata kak Masnur nih, AWAS ADA ANJING GALAU !
jadi, mending jangan galau deh kalau ga mau berubah jadi anjing. hahahahahaha
udah ah, besok posting lagi deh.
Caoooww ! (and keep watch out from the "Galau" virus) :)
Kali ini gue mau cerita cerita (baca : curhat) tentang status hubungan.
maksudnya penting ga sih kita mempertegas hubungan "pacaran",
atau pilih mana dengan engga harus pacaran tapi serius?
| What's your status? |
gue ambil contoh aja disini tentang M (sebut aja dia "kakak" gue. buat orang-orang yg akrab sama gue, hemm.. you know him so well lah..) dia punya komitmen kalau dia engga mau pacaran sampai selesai kuliah, walaupun seandainya dia suka sama seseorang. dia deket sama si A, sama si K, sama si I, sama si MU dan YU (sampai sekarang masih), dan (baru mau) sama si F, tapi dia tetep kekeuh enggak mau terikat dalam hubungan yang namanya pacaran.
dalam kasus ini, gue pribadi sih berpendapat sah-sah aja kalau memang dia bisa menjalani komitmennya tanpa menyakiti orang-orang yang "ngerasa" dia deketin itu. tapi kalau gue harus ngeliat dari sudut pandang perasaan perempuan ya pastilah itu engga adil. cewek mana sih yang enggak ngerasa ge-er pas di deketin sama cowok yang (mungkin juga) dia suka? tapi dilain sisi enggak berhak untuk cemburu atau bilang enggak suka ketika ada cewek lain yang dideketin (atau ngedeketin) si cowok itu. pasti rasanya nyesek banget..
atau tentang hubungan deska sama Mr.X, ini bukan inisial tapi emang karena deska emang enggak pernah ngenalin cowoknya secara langsung sama temen-temennya (well, sebenernya sih gue udah pernah liat muka tu cowok pas insiden foto kissing yang kepergok disimpan deska di handphonenya yang sekarang hilang -nyimpen foto skandal kayak gitu di handphone adalah ide buruuukkk, padahal deska dulu juga pernah nyimpen foto ciumannya di notebook waktu jaman pacaran sama kak chandra, daaann.. notebooknya engga balik-balik sampai sekarang *poor deska* :( seengaknya pesan moral disini adalah jangan pernah nyimpen foto ciuman! karena itu KUTUKAN yang bisa menyebabkan barang-barang Anda hilang- hahaha teganya gue bilang gini, maap ya des.. :p) oke, back to topic. kita ulang dari awal aja yaa..
tentang hubungan deska sama Mr.X yang pacaran tapi banyakan marahannya daripada sayang-sayangannya (menurut deska sih gitu). si Mr.X ini kabarnya cemburuan, gengsian buat baikin duluan kalau marahan, manja dan selalu minta diperhatiin, dll lah.. intinya deska ngerasa dia egois, dan terkadang seperti enggak mau tau perasaan deska dengan segala sikapnya.
atau hubungan Teh iyta sama kak gilang, yang notabene gaya pacarannya sudah seperti punya "aturan" ala rumah tangga. enggak boleh ini, enggak boleh itu, dan teh iyta-nya wajib nurut. kalau enggak, yahh.. "eloh, gueh, End !" bye-bye aja deh kata kak gilang. T.T
atau hubungan "HTS-an" Teh putri sama Wafi, yang permasalahannya enggak mau ada status pacaran tapi selalu cemburuan ke mantan pacar masing-masing.
atau hubungan widya sama adit, yang ibaratnya "suami-suami takut istri". widi-nya perkasa, adit-nya manut apa kata widi teruuusss..
atau hubungan teh icha sama kak teguh, yang sering galau karena kak teguhnya jarang punya waktu buat dia.
hemm.. intinya, rata-rata kesalahan gue limpahkan ke cowok masing-masing (hohoho, saya pembela wanita :D) ya itu tadi, kak M yang gajelas maunya apa, si Mr.X-nya deska yang egois, kak gilang yang overprotected, wafi yang enggak berani ambil sikap, adit yang terlalu "lugu", kak teguh yang bang toyib.
see? sebenernya yang lebih banyak bikin kerumitan dalam hubungan itu cowoooookkkk >.<
kadang, eh sering deng.. gue bersyukur gue punya cowok kayak cowok gue sekarang..
- meskipun kita enggak ada prosesi "tembak-tembakan" tapi dia nunjukin kalau dia sayang banget sama gue ke semua orang dengan sikapnya, and I'm still be his only one :).
- walaupun kadang dia egois, kadang enggak cepat tanggap dan kurang peka sama apa yang gue harapkan tapi dia selalu berusaha memenuhi apa yang gue minta.
- walaupun mukanya sangar tapi dia selalu lindungin gue dan enggak pernah kasar sama gue.
- dia selalu rutin mimpin gue solat ashar berjamaah kalau ada waktu luang kita pas barengan.
- dia kayak "reminder" pribadi gue (kadang tugas kuliah gue aja dia yang inget, guenya aja lupa. hahahahaha), dia jg sering marahin gue kalau gue telat pulang kuliah.
- walaupun dia sering sibuk tapi dia selau berusaha luangin waktu benar-benar cuma buat gue kalau kita ada moment khusus kayak monthversarry atau anniversarry.
- walaupun dia lebih tua tapi dia enggak bersikap seolah-olah dia yang harus paling berkuasa dalam hubungan kita, dia selalu nanya pendapat gue sebelum memutuskan sesuatu dan juga sangat menghormati segala keputusan gue.
- dia udah kayak kakak gue, ngasih kata-kata bijak yang sering ngingetin gue sama nasehat-nasehat abah. dia selalu bikin gue nyaman saat gue curhat sama dia, ngerasa bebas utarain semua uneg-uneg gue.
- dia udah jadi sahabat terdekat yang pernah gue punya. ketawa-nangis udah pernah kita lewati sama-sama.. dan dia enggak pernah sungkan untuk nunjukin segala ekspresi perasaannya ke gue, begitupun gue.
- dannn.. meskipun gue yang salah, tapi dia enggak pernah gengsi untuk minta maaf duluan sama gue kalau kita lagi berantem.
dia enggak menjanjikan gue banyak hal, tapi dia mengajari gue banyak hal.
dia enggak pernah ngebiarin gue ngerasa sendiri, dan enggak pernah tega kalau gue sendiri.
dia bilang gue enggak perlu takut apapun, karena sebenarnya gue kuat dan gue bisa menghadapi apapun.
pokoknya apapun itu, aku sayang kamu, selalu dan tambah sayang kamu.. :">













.jpg)






